Selasa, 09 Februari 2016

UTS JURNALIS PERS II


Nama               : Dede Nurdiansyah
Nirm                : 2014.01.0044
Smester            : 04
Dosen              : Candra P. Pusponegoro,Sos

TUGAS 1
Assalamu’alaikum Wr, Wb
Nama saya adalah Dede Nurdiansyah saya adalah seorang pria berumur 32 tahun. Saya telah menikah dengan seorang wanita yang bernama Tika. Kami juga memiliki tiga orang anak laki-laki yang sangat pintar-pintar Alhamdulillah, anak pertama saya bernama Abdur Ra’uf Al-ba’i yang ke dua bernama Abdur Rohman Alamsyah dan yang ketiga bernama Muhammad yusuf Ghozali. Keluarga kami adalah keluarga yang bahagia dan tentram dan bisa dikatakan Sakinah Mawadah Warohmah Alhamdulillah.
Pagi hari
Sebagai seorang muslim, setiap pagi saya bangun pukul 04.00 pagi untuk melaksakan kewajiban sholat fardu dan sholat-sholat sunat lain nya yang dikerjakan sebelum sholat shubuh, setelah itu saya baca Al-quran kira-kira 1 halaman, kalau lagi razin kadang-kadang saya bantu istri masak air untuk buat teh dan kalu ada waktu saya bantu masak nasi juga, bantu mandiin anak yang masih kecil. Setelah itu saya siap-siap untuk pergi kerja seperti mandi, sarapan dan lain-lain, saya masuk kerja pukul 08.00 pagi. Biasanya saya pergi kerja menggunakan motor sendiri karna pihak perusahaan belum bisa memberikan inventaris kendaran.
Di tempat kerja
Saya bekerja di salah satu universits di Batam alhamdulillah di wilayah Batam Centre, tepatnya di Politeknik Negeri Batam yang terletak di Jl.Park Way Batam Centre Batam. Saya adalah sebagai karyawan koperasi mahasisiwa/i, kerjaan rutin saya di koperasi adalah dari mulai menata barang, berjualan, menerima barang yang datang, foto kopi, print, pokoknya merangkap rangkap, di koperasi semua karyawan di haruskan serba bisa walau pun melelahkan tapi alhamdulilah masih punya pekerjaan karna diluar sana masih banyak orang-orang yang menganggur membutuhkan pekerjaan dan sayapun beruntung juga karna dikala saya sudah gak kerja lagi suatu saat saya bisa peraktekan dengan membuka usaha sendiri di luar. Koperasi juga bergerak dibidang pinjaman bagi mahasiswa yang mau pinjam untuk bayar uang kuliah tentunya dengan adanya syarat-syarat yang harus di penuhi. Jam kerja saya adalah dari pukul 08.00 pagi sampai pukul 17.00 tapi apabila ada temen yang jaga malam tidak masuk kadang saya lembur sampai jam 21.00 malam
Sore hari  dan malam hari (selepas pulang kerja)
Setiba saya dirumah dari tempat kerja,biasanya saya langsung mempersiapkan diri untuk sholat magrib dan selepas magrib saya membantu mengajar di tpq nurul hidayah untuk anak anak kelas lima dan kelas enam sampai waktu menjelang isya, alhamdulillah saya di percaya oleh warga perumahan untuk mengurusi TPQ  tepatnya saya sebagai kepala TPQ Nurul Hidayah. SelepaS sholat isya saya telpon pak Indra yaitu orang yang paling saya senangi karna berkat beliau saya bisa mengetahui masalah di kampus atau di STIDKI AL-AZIZ, saya slalu menghubungi beliau menanyakan ada dosen atau tidak di kampus karna sayang waktu kaulu saya datang ke kampus dosennya tidak ada, kalu dosen tidak masuk saya berkumpul bersama keluarga seperti menonton tv sambil bercanda dan sebagainya sampai pukul 09.30 dn jam 22.00 kamipun mempersiapkan diri untuk pergi ke pulau kapuk atau tidur.
Saking padatnya waktu aktifitas di luar rumah kadan istri dan anak-anak sayapun sering  protes kenapa kok bapak dirumah hanya sebentar tapi alhamdulillah setelah di berikan pengertian mereka mengerti juga karna memang yang saya lakukan ini hanyalah semata mata buat mereka juga.
Seperti itulah aktifitas yang biasa saya lakukan sehari-hari, dan aktifitas ini bukan aktifitas yang baku atau slalu terjadi seperti ini. Aktifitas saya akan berubah setiap harinya tergantung dari keadaan dan kondisi yang ada di sekitar saya.
Sekian dari saya sebenarnya masih banyak tapi keterbatasan waktu yang memisahkan kita, trimakasih

TUGAS 2

CARA MEMBENTUK DAN MELAHIRKAN JURNALIS SESUAI YANG DI CONTOHKAN NABI

Dalam tulisan ini sesuai judul diatas DALAM MEMBENTUK DAN MELAHIRKAN AKTIFIS JURNALIS KAMPUS YG JUJUR AMANAH ,DAPAT DIPERCAYA, ADALAH dengan cara menciptakan SDM jurnalis kampus yg siap MENTAL dengan memberikan bekal PENDIDIKAN ISLAM yang baik pada mereka, yang mana masalah pendidikan ini termasuk salah satu kebutuhan asasi manusia. Sebab, ia menjadi jalan yang lazim untuk memperoleh pengetahuan atau ilmu. Sedangkan ilmu akan menjadi unsur utama penopang kehidupannya. Oleh karena itu, Islam tidak saja mewajibkan manusia untuk menuntut ilmu, bahkan memberi dorongan serta arahan agar dengan ilmu itu manusia dapat menemukan kebenaran yang hakiki dan mendayagunakan ilmunya di atas jalan kebenaran itu.

Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Tuntutlah oleh kalian akan ilmu pengetahuan, sesungguhnya menuntut ilmu adalah mendekatan diri kepada Allah azza wa jalla, dan mengajarkannya kepada orang yang tidak mengetahuinya adalah shodaqoh. Sesungguhnya ilmu itu akan menempatkan pemiliknya pada kedudukan tinggi lagi mulia. Ilmu adalah keindahan bagi ahlinya di dunia dan akhirat.”[HR. ar-Rabi’].

Makna hadits tersebut sejalan dengan firman Allah SWT: “Allah niscaya mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan mereka yang berilmu pengetahuan bertingkat derajat. Dan Allah Maha mengetahui terhadap apa yang kamu lakukan.(Qs. al-Mujadalah: 11).

langkah selanjutnya adalah memantapkan kualitas Aqidah para jurnalis, Asas pendidikan adalah aqidah Islam. Aqidah menjadi dasar dan metode pengajaran yang berkonsekuensi pada ketaatan pada syari’at Islam. Ini berarti tujuan, pelaksanaan, dan evaluasi pelaksanaan pada apa yg akan ditulis oleh SANG JURNALIS harus terkait dengan ketaatan pada syari’at Islam. Sehingga tulisan sang jurnalis dianggap tidak berhasil apabila tidak menghasilkan keterikatan pada syari’at Islam walaupun mungkin membuat sang penulis menuliskan sesuatu yg dianggap baik namun pada kenyataanya menyesatkan.

perlu difahami Aqidah Islam menjadi asas dari ilmu pengetahuan, bukan berarti semua ilmu pengetahuan yang dikembangkan harus bersumber pada akidah Islam, karena memang tidak semua ilmu pengetahuan lahir dari akidah Islam. Yang dimaksud adalah, aqidah Islam harus dijadikan standar penilaian. Ilmu pengetahuan yang bertentangan dengan aqidah Islam tidak boleh dikembangkan dan diajarkan, kecuali untuk dijelaskan kesalahannya.

Memberikan Pendidikan pada jurnalis merupakan upaya sadar, terstruktur, terprogram, dan sistematis yang bertujuan untuk membentuk manusia yang berkarakter, dan berkepribadian Islam .Ini merupakan konsekuensi keimanan seorang Muslim. Intinya, seorang Muslim harus memiliki dua aspek yang fundamental, yaitu pola pikir dan pola jiwa yang berpijak pada aqidah Islam.

Untuk mengembangkan kepribadian yang Islami,ada tiga langkah yang harus ditempuh, sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam, yaitu

1. Menanamkan aqidah Islam kepada seseorang dengan cara yang sesuai dengan kategori aqidah tersebut, yaitu aqidah yang muncul dari proses pemikiran yang mendalam

2. Menanamkan sikap konsisten dan istiqamah pada orang yang sudah memiliki aqidah Islam agar cara berpikir dan berprilakunya tetap berada di atas pondasi aqidah yang diyakininya.

3.Mengembangkan kepribadian Islam yang sudah terbentuk pada seseorang dengan senantiasa mengajaknya untuk bersungguh-sungguh mengisi pemikirannya dengan tsaqafah islamiyyah dan mengamalkan ketaatan kepada Allah SWT.

Langkah selanjutnya adalah menguasai ilmu kehidupan (IPTEK). Menguasai IPTEK diperlukan agar setiap jurnalis mampu mencapai kemajuan material sehingga memiliki keterampilan yang memadai. Penguasaan ilmu-ilmu teknik dan praktis serta latihan-latihan keterampilan dan keahlian merupakan salah satu yang harus dimiliki seorang jurnalis dalam rangka melaksanakan tugasnya sebagai juru dakwah (jurnalis).

Agar pendidikan ini menghasilkan SDM jurnalis yang sesuai harapan, harus dibuat sebuah sistem pendidikan yang terpadu. Artinya, pendidikan tidak hanya terkonsentrasi pada satu aspek saja. Sistem pendidikan yang ada harus memadukan seluruh unsur pembentuk sistem pendidikan yang unggul. Dalam hal ini, minimal ada 3 hal yang harus menjadi perhatian yakni sinergi antara kampus , masyarakat, dan keluarga. Pendidikan yang integral harus melibatkan tiga unsur di atas. Sebab, ketiga unsur di atas menggambarkan kondisi faktual obyektif pendidikan.

Saat ini ketiga unsur tersebut belum berjalan secara sinergis, di samping masing-masing unsur tersebut juga belum berfungsi secara benar. Di tingkat Perguruan Tinggi (PT), kebudayaan asing dapat disampaikan secara utuh. Ideologi sosialisme-komunisme atau kapitalisme-sekularisme, misalnya, dapat diperkenalkan,setelah mereka memahami Islam secara utuh. Pelajaran ideologi selain Islam dan konsepsi-konsepsi lainnya disampaikan bukan bertujuan untuk dilaksanakan, melainkan untuk dijelaskan dan dipahami cacat-celanya serta ketidaksesuaiannya dengan fitrah manusia sehingga akan melahirkan jurnalis yang berkualitas islami,amanah,istiqomah dan kritis sebagaimana yang di contohkan oleh rasululillah shallalahu alaihi wasallam..

Demikian tulisan ini saya buat sebagai tugas ujian jurnalistik yang di tugaskan kepada saya